Panggilan Khusus: Menjadi Imam, Biarawan-Biarawati


Setiap tahun Gereja Katolik merayakan Hari Doa Sedunia untuk Panggilan bagi imam, biarawan-biarawati pada Hari Minggu Paskah ke-IV.  Momen gerejawi ini sangatlah penting bagi segenap umat Allah untuk ikut merayakan dan mendoakannya.  Mengapa menjadi penting?  Karena panggilan menjadi imam, biawaran-biarawati sebagai "tanda" suburnya kehidupan umat beriman Kristiani.
Panggilan "inisiatif Allah" 
Paus Emeritus Benediktus XVI pernah menulis pesan yang dikirim kepada para peserta Kongres Panggilan II, di Cartago, Kosta Rika, 31/1 - 5/2/ 2011, vang isinva adalah: "Panggilan itu bukan buah dari proyek manusia atau strategi organisasi yang terampil. Panggilan itu adalah hadiah dari Allah, sebuah inisiatif Tuhan". Manusia yang menjawab paggilan Allah ini memberikan dirinya dengan total dan pasti kepada Allah yang memanggilnya.

Dari pernyataan Paus Emeritus Benediktus XVI, dapat dikatakan panggilan adalah proyek Tuhan. Tuhan yang memanggil, dan manusia menjawab dengan penuh kebebasan. Panggilan imamat dan hidup bakti merupakan anugerah ilahi khusus di dalam rencana kasih dan penyelamatan Allah bagi seluruh umat manusia.. Rasul Paulus, pernah menulis kepada umat di Efesus, "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya" (Ef 1:3-4).

Cara mengenal panggilan Allah 
Bagaimana caranya manusia dapat mengenali panggilan Allah itu? Pertama-tama, seorang harus mempunyai relasi dengan Allah yang memanggil-Nya. Melalui doa dan membaca firman-Nya, manusia dapat mendengarkan bisikan Allah yang halus. Perlahan namun pasti, olah rohani seseorang akan lebih mudah untuk menanggapi panggilan Tuhan dalam dirinya.

"Panggilan imamat dan hidup bakti lahir dari pengalaman Kristus, berkat dialog dengan Dia secara rahasia dan tulus, yang berarti memasuki ke dalam kehendak-Nya.  Oleh karena itu sangatlah perlu tumbuh dalam pengalaman iman, mengenal suatu relasi yang mendalam dengan Yesus, memberi perhatian secara rohani terhadap suara-Nya yang hanya bisa diperdengarkan dalam lubuk hati kita" (Pesan Hari Doa Sedunia Untuk Panggilan ke-50, 21 April 2013).

Tanggapan bebas manusia
Tugas kiga sebagai umat beriman kristiani, adalah berdoa memohon kepada 'Sang empunya Tuaian' agar Ia terus mengundang para pekerja yang bersedia mengabdikan diri mereka seutuhnya demi keselamatan umat manusia. Sedangkan tugas orang-orang yang terpanggil ialah tetap peka terhadap suara Tuhan dan mencermati betul kehendak Allah dalam dirinya; siap mengabdikan diri pada rencana ilahi; memahami secara benar tuntutan panggilan imamat dan hidup bakti serta meng-hayatinya dengan penuh rasa tang-gung jawab dan penuh keyakinan.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) dengan tepat mengingatkan bahwa prakarsa bebas dari Allah membutuhkan tanggapan bebas pula dari manusia. Jawaban manu-sia yang positif terhadap inisiatif Allah yang memanggil, meng-andaikan kesadaran manusia akan rencana Allah bagi setiap orang dan jawaban manusia atas prakarsa kasih Tuhan. Kemudian tanggapan itu bertumbuh dan berkembang hingga menjadi suatu kewajiban moral, dan suatu persembahan penuh syukur kepada Allah yang memanggil demi pelaksanaan rencana-Nya dalam sejarah manu-sia (bdk. KGK 2062).

Imamat dalam perutusan Gereja 
Para imam berkat tahbisan dan perutusan yang mereka terima dari para uskup, diangkat untuk melayani Kristus, Guru, Imam, dan Raja. Mereka ikut menunaikan pelayanan-Nya, yang bagi Gereja merupakan upaya untuk tiada hentinya dibangun di dunia ini menjadi Umat Allah. Berkat pengurapan Roh Kudus, ditandai dengan meterai istimewa, dengan demikian para imam menjadi serupa dengan Kristus, Sang Imam, sehingga mereka mampu bertindak dalam pribadi Kristus, Kepala (bdk. PO. 2).

Para imam dengan cara mereka sendiri ikut mengemban tugas para rasul, mereka dikarunia rahmat oleh Allah, untuk menjadi pelayan Kristus di tengah segala bangsa, dengan menunaikan tugas Injil. Melalui pelayanan para imam, kurban rohani kaum beriman men-capai kepenuhannya dalam persatuan dengan kurban Kristus, pengantara tunggal, yang melalui tangan para imam, atas nama seluruh Gereja (bdk. PO.2).



Tuntutan rohani dalam kehidupan Imam 
Ketaatan dan kerendahan hati (PO.15)

Dalam Dekrit Pelayanan dan Kehidupan Para Imam, art. 15 dikatakan bahwa kerendahan hati dan ketaatan sebagai tuntutan rohani yang khas dalam kehidupan para imam. Di antara keutamaan yang perlu sekali bagi pelayanan para imam layaklah disebutkan sikap rendah hati yang selalu bersedia bukan untuk mencari kehendak sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus mereka.

Melalui kerendahan hati serta ketaatan yang sukarela dan penuh tanggung jawab itu, para imam menjadi secitra dengan Kristus, penuh citarasa seperti terdapat pada Kristus Yesus, yang mengosongkan diri dengan mengenakan penampilan seorang hamba... menjadi taat sampai mati" (Fil 2:7-9).

Selibat: diterima dan dihargai sebagai karunia (P0.16) 

Para imam seeara baru dan luhur dikuduskan bagi Kristus. Mereka lebih mudah berpaut pada-Nya dengan hati tak terbagi, lebih bebas dalam Kristus dan melalui Dia membaktikan diri dalam peng-abdian kepada Allah dan sesama.


Konsili percaya bahwa karunia selibat, begitu cocok bagi imamat Perjanjian Baru, dalam Roh akan dikaruniakan penuh kemurahan Allah Bapa. Apa yang kelihatan mustahil bagi dunia, namun para imam dengan tabah dan rendah hati akan memohon bersama dengan Gereja, rahmat kesetiaan, yang selalu akan dikaruniakan kepada mereka yang memohonnya.

Oleh karena itu, konsili suci meminta kepada para imam dan seluruh umat beriman supaya menjunjung tinggi anugerah selibat imam yang begitu berharga, dan supaya mereka semua memohon kepada Allah, supaya la selalu menganugerahkan karunia itu secara melimpah kepada Gereja-Nya.


Tarekat rellgius: biarawan-biarawati 
Biarawan-biarawati adalah pria dan wanita yang dengan rela hati untuk mengamalkan nasihat-nasihat Injili untuk mengikuti Kristus secara lebih bebas, dan meneladani-Nya dengan lebih setia. Dengan cara mereka masing-masing, mereka menghayati hidup yang dibaktikan kepada Allah. Mereka ini dapat dikatakan hidup sebagai religius. Biarawan-biarawati, per-tama-tama mereka telah menanggapi panggilan Allah dengan mengikrarkan nasihat-nasihat Injili. Seluruh hidup mereka telah dibaktikan untuk mengabdi kepada-Nya, dan hal ini merupakan penyucian istimewa, yang secara mendalam berakar dalam sakramen baptis dan mengungkapkan secara lebih utuh.

Pengabdian biarawan-biarawati kepada Allah itu harus secara kuat mendorong mereka untuk mengamalkan keutamaan-keutamaan dan menggembangkannya, terutama kerendahan hati dan ketaatan, kekuatan dan kemurnian, yang berarti keikutsertaan mereka dalam mengkosongkan diri Kristus, dalam kehidupan-Nya dalam Roh (bdk. PC. 5).

Tuntutan rohani dalam kehidupan imam 
Ketaatan dan kerendahan hati (P0.15)


Dalam Dekrit Pelayanan dan Kehidupan Para Imam, art. 15 di-katakan bahwa kerendahan hati dan ketaatan sebagai tuntutan rohani yang khas dalam kehidupan para imam. Di antara keutamaan yang perlu sekali bagi pelayanan para imam layaklah disebutkan sikap rendah hati yang selalu bersedia bukan untuk mencari kehendak sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus mereka.

Melalui kerendahan hati serta ketaatan yang sukarela dan penuh tanggung jawab itu, para imam menjadi secitra dengan Kristus, penuh citarasa seperti terdapat pada Kristus Yesus, yang mengkosongkan diri dengan mengenakan penampilan seorang hamba... menjadi taat sampai mati" (Fil 2:7-9).


Selibat: diterima dan dihargai sebagai karunia (P0.16) 

Para imam secara baru dan luhur dikuduskan bagi Kristus. Mereka lebih mudah berpaut pada-Nya dengan hati tak terbagi, lebih bebas dalam Kristus dan melalui Dia membaktikan diri dalam pengabdian kepada Allah dan sesama.

Konsili percaya bahwa karunia selibat, begitu cocok bagi imamat Perjanjian Baru, dalam Roh akan dikaruniakan penuh kemurahan Allah Bapa. Apa yang kelihatan mustahil bagi dunia, namun para imam dengan tabah dan rendah hati akan memohon bersama dengan Gereja, rahmat kesetiaan, yang selalu akan dikaruniakan kepada mereka yang memohonnya.

Oleh karena itu, konsili suci meminta kepada para imam dan seluruh umat beriman supaya menjunjung tinggi anugerah selibat imam yang begitu berharga, dan supaya mereka semua memohon kepada Allah, supaya la selalu menganugerahkan karunia itu secara melimpah kepada Gereja-Nya.

Tarekat religius: biarawan-biarawati 
Biarawan-biarawati adalah pria dan wanita yang dengan rela hati untuk mengamalkan nasihat-nasihat Injili untuk mengikuti Kristus secara lebih bebas, dan meneladani-Nya dengan lebih setia. Dengan cara mereka masing-masing, mereka menghayati hidup yang dibaktikan kepada Allah. Mereka ini dapat dikatakan hidup sebagai religius. Biarawan-biarawati, pertama-tama mereka telah menanggapi panggilan Allah dengan mengikrarkan nasihat-nasihat Injili. Seluruh hidup mereka telah dibaktikan untuk mengabdi kepada-Nya, dan hal ini merupakan penyucian istimewa, yang secara mendalam berakar dalam sakramen baptis dan mengungkapkan secara lebih utuh.

Pengabdian biarawan-biarawati kepada Allah itu harus secara kuat mendorong mereka untuk mengamalkan keutamaan-keutamaan dan menggembangkannya, terutama kerendahan hati dan ketaatan, kekuatan dan kemurnian, yang berarti keikutsertaan mereka dalam mengosongkan diri Kristus, dalam kehidupan-Nya dalam Roh (bdk. PC. 5).

Kemurniaan, ketaatan, dan kemiskinan 
Panggilan hidup religius pertama-tama menanggapi panggilan Allah dengan mengikrarkan tiga nasihat Injili yaitu: kemurnian, ketaatan, dan kemiskinan. Kemurnian 'demi Kerajaan Surga" (Mat 19;12), yang diikrarkan oleh para religius, harus dihargai sebagai karunia rahmat yang sangat luhur. Sebab secara istimewa, membebaskan hati manusia (bdk. 1 Kor 7:32- 35), supaya ia lebih berkobar cinta kasihnya terhadap Allah dan semua orang.

Ketaatan juga menjadi unsur yang penting dalam kehidupan para religius. Dengan mengikrarkan ketaatan, para religius mempersembahkan bakti dan bahkan kehendak mereka yang sepenuhnya bagaikan kurban diri kepada Allah. Seperti Yesus yang datang ke dunia untuk melaksanakan kehendak Allah, "Mengenakan rupa seorang hamba" (bdk. Flp 2:7), para religius, atas dorongan Roh Kudus, dalam iman mematuhi para pemimpin yang mewakili Allah.

Kemiskinan, sukarela untuk mengikuti Kristus merupakan tandanya, yang terutama sekarang ini sangat dihargai.  Hendaknya kemiskinan itu dihayati dengan tekun oleh para religius, dan bila perlu diungkapkan juga dalam bentuk-bentuk yang baru.  Dengan demikian para religius ikut serta menghayati kemiskinan Kristus yang demi kita telah menjadi miskin sedangkan la kaya, supaya karena kemiskinan-Nya, kita menjadi kaya (bdk. Mat. 8:20).



Penutup 
Menjadi imam berarti hidup untuk orang lain. Ia telah menyerahkan diri-Nya untuk melayani Tuhan dan sesama. Maka, yang utama hidupnya harus bertumpu pada kekuatan Allah. Hal penting lainnya, adalah menghayati imamat, membaktikan diri melalui pelayanannya dan bertumbuh dalam cinta kasih-Nya. Menyadari akan tugas perutusannya, bahwa ia tidak sendirian, ada begitu banyak imam di seluruh dunia yang telah menjadi saudaranya untuk melaksanakan rencana keselamatan Allah dalam diri setiap orang (bdk. PO.22).

Gereja juga sangat menghargai corak hidup bakti bagi para biarawan-biarawati (Tarekat Hidup Bakti) yang ditandai dengan kemurnian, kemiskinan, dan keta-atan dalam menjalankan nasihat Injili dengan teladan Kristus Tuhan. Gereja menaruh harapan yang teguh atas karya-karya mereka yang begitu subur, baik, dan sifatnya tersembunyi maupun terbuka.

Di hari khusus ini, kita bersyukur atas panggilan imam, biarawan-biarawati yang dengan rela mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan dan sesama, demi Kerajaan Sorga.  Kita juga berdoa dan memohon agar banyak kaum muda yang bersedia mendengarkan panggilan Tuhan, dan bersedia menjawab 'ya' ini aku Tuhan, utuslah aku.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Seaming is a process of folding two sheets of steel together to type a joint. It is a steel working strategy of eradicating pet supplies camber, the horizontal bend, from a strip formed material. It resembles flattening of leveling process, however on a deformed edge. Aluminum, or aluminium in British English, can also be|can be} a well-liked steel utilized in sheet steel due to of} its flexibility, big selection of choices, value effectiveness, and different properties.

    BalasHapus