JLM #4 - Kuikuti LangkahMu (Agnes Ida Wita Sari)

Kuikuti LangkahMu
Agnes Ida Wita Sari


Dulu aku sering berangan-angan bisa menginjakkan kakiku di tanah Borneo dan bersenang-senang. Tak disangka-sangka, impianku menjadi kenyataan.Bukan untuk bersenang-senang melainkan untuk bermisi ala Orang Muda Katolik di pedalaman Kalimantan tepatnya di Paroki Tanjung, Keuskupan Ketapang, Kalimantan Barat bersama teman-teman Jejak Langkah Misioner #4 (JLM #4).
Awalnya aku merasa tidak percaya diri dan ragu dengan usiaku yang tidak lagi muda, terpaut amat jauh dengan rekan-rekan seperjuangan termasuk ramanya. Masihkah aku diberi kesempatan untuk ikut bermisi ke Kalimantan? Mampukah aku beradaptasi?  Apakah teman-teman satu tim bisa menerimaku dan bekerja sama denganku? Kekhawatiran ini cukup membuatku terombang-ambing dalam membuat keputusan. Namun, berkat peneguhan dari beberapa kawan akhirnya aku memantapkan diri untuk terjun dan berkubang dalam misi ini.  “Tidak ada kata terlambat dan tidak ada kata terlalu tua untuk melakukan hal baik apa lagi bermisi”, pesan inilah yang selalu kupegang dan menguatkanku.

This is my journey
Sebagai orang yang lahir dan tinggal di Jawa dengan segala macam fasilitasnya sudah pasti aku berpikir dengan pola pikir dan ritme hidup yang teratur dan terencana layaknya orang yang tinggal di Jawa. Ketika berkunjung ke wisma keuskupan Ketapang, Mgr.Pius Riana Prapdi sempat memberi wejangan supaya kami meninggalkan segala sesuatu tentang Jawa. Wejangan Bapak Uskup ini sempat tidak kumengerti namun lambat laun kupahami juga setelah mulai menjajaki lokasi misi kami.

Here I am, this is my journey.Petualanganku di Kalimantan rasanya benar-benar dimulai saat aku mulai perjalanan menuju Paroki Tanjung.Perjalanan panjang yang diwarnai debu dan pecah ban tidak sedikitpun membuatku dongkol, tapi justru membuatku makin bersemangat dan ceria. Mobil Pajero Sport putih yang dikendarai Rama Bondhan pun tidak luput dari ganasnya jalan di Kalimantan yang katanya jalan provinsi tapi lebih mirip dengan arena off road berlumpur dan membuat kami terjebak selama 2,5 jam tanpa bantuan.  Mau tidak mau kami semua tanpa terkecuali berkubang dalam lumpur untuk mengeluarkan mobil yang terperosok dengan alat seadanya. Sungguh perjuangan yang cukup sulit dan melelahkan. Tapi, di sinilah uniknya kami. Makin berat tantangan dan tekanan yang kami hadapi,makin kuatlah semangat dan keceriaan kami serta Makin tampaklah kekompakan kami dalam menghadapi masalah. Tak ada satu pun yang berpangku tangan, semua bekerja dengan sepenuh hati. Sekalipun badan penuh dengan lumpur, tak ada waktu untuk menyurutkan semangat kami.
Mengenal tradisi baru

Dalam tugas perutusanku di Kalimantan, aku mendapat kesempatan untuk live in di Stasi Pulai Laman bersama rekanku Ivan. Sebuah stasi yang lumayan jauh dan harus menyusuri dan menyeberangi Sungai Jelai terlebih dahulu menggunakan klotok, yaitu perahu kecil.Perjalanan dilanjutkan menggunakan motor melewati hutan dan perkebunan sawit. Sungguh perjalanan yang bagikumenegangkan dan menantang terlebih saat harus naik klotok kecil. Klotok tanpa pelampung di Sungai Jelai yang dalam dan konon masih ada buayanya. Ketidakmampuanku berenang sungguh membuatku kawatirjika terjadi sesuatu. Aku pun berpesan pada Ivan untuk menyelamatkanku jika karam. Rasa takut itu mau tidak mau harus kusingkirkan dengan jalan berdoa sepanjang perjalanan dan menyerahkan hidup matiku pada kuasa Tuhan. Mungkin agak berlebihan, tapi hanya doa saja yang masih memungkinkan untuk dilakukan. Perjuangan memerangi rasa ketakutan pun berakhir ketika sampai di Stasi Pulai Laman. Dan perutusanku di tempat live in pun dimulai….
Di sana masih kental kebiasaan-kebiasaan yang sudah jarang dilakukan di kota. Setiap hari aku berkunjung ke rumah warga di Pulai Laman yang selalu menyambut hangat kedatanganku meskipun aku ini orang asing. Mereka sering kali mengajak kami untuk makan bersama dengan lauk babi, ikan, sayur bambu muda, dan jamur sawit. Pernah juga, kami mencicipi hidangan daging tikus sawit.Makanan yang tergolong ekstrim untukku.Tak lupa mereka juga menyuguhkan minuman tradisional tuak pada kami. Untuk menghormati tuan rumah, aku wajib untuk menyantap hidangan dan minuman yang telah disediakan. Kalau menolakpun harus mengatakan pusa’-pusa’ supaya pemilik rumah tidak tersinggung. Ini merupakan sebuah kebiasaan yang sebenarnya mengandung nilai-nilai positif. Makan dan minum bersama dapat mempererat persaudaraan dan semangat saling menghargai dan menghormati.

Tradisi yang tak kalah seru adalah acara adat bergendang. Tradisi bergendang ini dilakukan saat ada acara khusus, misalnya Natal. Alat musik kendang mulai ditabuh untuk menandai dimulainya acara ini. Kami menari bersama menyesuaikan alunan dan ritme musik bergendang yang cepat. Setelah itu satu per satu tamu di luar Pulai Laman diajak untuk menarikan sebuah tarian yang gerakannya berbeda antara laki-laki dan perempuan. Gerakannya cukup sederhana yaitu dengan merentangkan tangan saja, seperti burung Ruai, tapi cukup melelahkan. Sambil menari tak lupa disuguh tuak yang bergiliran diberikan ke semua penari dari satu gelas yang sama. Sebuah tradisi yang masih lestari terjaga sebagai bentuk penghormatan kepada tamu khusus.
Perjumpaan dengan“Curut”
Hampir satu minggu aku hidup bersama dan berdinamika dengan umat Pulai Laman terkhusus dengan OMK dan anak PIA. Bersama dengan OMK, aku merasakan kehangatan relasi. Mereka mengajakku menangkap ikan dengan kelambu secara beramai-ramai. Nyemplung di aliran sungai. Akivitas ini membutuhkan kerja sama dan kesabaran dari masing-masing individu. Mereka begitu akrab dengan alam tidak khawatir terpanggang terik matahari dan tidak canggung bergumul dengan kubangan air demi beberapa ekor ikan saja. Banyaknya ikan yang didapat sepertinya tidak jadi hal yang utama, justru kebersamaan dan keakraban antar merekalah yang menjadi tujuan utama.
Lain lagi dengan anak-anak PIA. Aku beroleh kesempatan bersama mereka ketika mendampingi Sekolah Minggu. Mereka memiliki julukan untuk teman-teman mereka sendiri. Sebagai contoh, Franky sering dipanggil curut oleh teman-temannya. Uniknya Franky sama sekali tidak tersinggung ketika dipanggil Curut oleh teman-temannya. Justru dia malah tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya. Sungguh suatu kebesaran hati dari seorang anak kecil yang patut diteladani.
Curut begitu menarik perhatianku. Dia anak yang ceria dan pemberani. Setiap ada pertanyaan Curut selalu mencoba untuk menjawabnya meski acap kali jawabannya tidak nyambung. Pernah aku bertanya, “Yesus lahir di mana?” Dengan cepat Curut langsung menjawab dengan suara nyaring, “Yesus lahir di kandang babi”. Sontak gelak tawa seisi gereja membahana mendengar jawaban Curut ini. Sekilas jawaban Curut ini seperti jawaban ngawur,akan tetapi jika dicermati jawaban ini adalah jawaban yang kontekstual, setidaknya bagi Curut. Curut nampaknya paham jika Yesus lahir di sebuah kandang. Hanya saja kandang yang selama ini Curut tahu adalah kandang babi. Hanya binatang babi saja yang nampaknya familiar di mata Curut.

Minimnya pengetahuan tentang Kitab Suci yang diperoleh dari pendampingan iman anak nampaknya mempengaruhi jawaban si Curut. Tapi, bukan Curut kalau dia pantang menyerah menjawab tiap pertanyaan. Berulang kali dia salah, berulang kali pula dia akan mencoba tanpa henti tanpa rasa malu dan tetap ceria tanpa penyesalan. Sungguh suatu sikap yang jarang ditemui dalam diri orang dewasa.
Karakter Curut yang apa adanya, selalu ceria, terbuka dan pantang menyerah adalah karakter yang umum dimiliki anak-anak. Suatu sikap dan karakter yang menjadi salah satu syarat yang ditetapkan oleh Yesus untuk masuk dalam Kerajaan Surga. Seperti ada tertulis dalam Injil Markus 10:15, “Barang siapa tidak menerima Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil tidak akan masuk ke dalamnya”. Ini menjadi sebuah refleksi untukku. Mampukah dan maukah aku menurunkan egoku sebagai orang dewasa menjadi seperti anak kecil yang ceria, pantang menyerah, terbuka pada kabar baik, mau mengampuni dan penuh cinta kasih?

Menjadi seperti anak-anak

Menjadi dewasa merupakan siklus alami yang harus dilalui oleh tiap manusia. Sikap-sikap dewasa pun harus ditampakkan dan diwujudnyatakan dalam tingkah laku. Bertanggungjawab, mengayomi dan berpikir lebih rasional menjadi harga mati yang harus dimiliki orang dewasa. Sikap ini memang harus dimiliki, tapi kadang membuatku terjebak menjadi orang yang harus paling memahami segala sesuatu dibandingkan orang lain. Ini kusadari menjadi beban sekaligus kelemahan karena merasa diri paling tahu.
Sabda Yesus yang mengaitkan Kerajaan Surga dengan sifat-sifat anak kecil yang penuh dengan keceriaan, kerendahan hati, cinta kasih dan sikap penuh pengampunan menggugah nuraniku bahwa menjadi dewasa bukan berarti harus meninggalkan sifat seorang anak yang positif. Justru harus terus menghidupkan karakter anak tersebut. Ini pun bukan berarti aku menjadi bersifat kekanak-kanakan, melainkan menjadikan hidupku lebih hidup seperti seorang anak kecil.

Nilai-nilai yang dapat kupetik dari relasiku dengan anak antara lain mereka tidak takut untuk mencoba lagi dan lagi, sekali pun gagal berulang kali. Aku belajar untuk mudahmove on, meninggalkan masa lalu dan siap menghadapi saat ini dengan senyum dan keceriaan. Tiada dendam di dalam hati anak-anak. Mereka penuh dengan pengampunan dan tidak menyimpan dendam sehingga akan dengan mudah membangun kembali relasi yang sempat retak. Anak-anak akan mencinta dengan sepenuh hati tanpa pamrih, tanpa rasa curiga, dan dengan ketulusan hati.
Nilai terakhir yang menggelitik hatiku adalah anak-anak menaruh kepercayaan penuh pada yang lebih tua tanpa banyak bertanya ini dan itu. Sebuah kepercayaan atau boleh dibilang iman yang luar biasa yang patut diteladani. Tak jarang, aku justru kurang mempercayakan hidupku pada Bapa Sang Penyelenggara Ilahi. Aku sering protes pada rencana-rencana Tuhan yang tidak seasuai dengan harapanku. Padahal, pastilah Tuhan itu selalu membuat rancangan yang paling indah bagi hidupku. Hanya saja, aku sering tidak sabar dan tidak jeli dalam memahami rencana Tuhan yang indah bagi hidupku.

Aku ingin...

    Aku sungguh merasa bersyukur beroleh kesempatan terlibat dalam misi ini. Aku melihat dan ikut merasakan betapa minimnya sarana dan prasarana umum di Kalimantan. Jalan berbatu dan berlumpur adalah pemandangan yang biasa dijumpai di jalan-jalan pedalaman Kalimantan. Tidak adanya aliran listrik pun bukan hal asing. Mereka mengandalkan genset dari pukul enam sore sampai puluh malam saja. Sarana pendidikan dan tenaga pendidik pun cukup memprihatinkan.  Satu ruangan di SD Pulai Laman harus dibagi untuk 2 kelas. Mereka harus rela berpisah dengan keluarga mereka menuju kota yang jauh demi mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Keadaan yang sungguh tidak ideal. Berbeda jauh dengan situasi yang ada di Jawa.
 


 Aku merasa miris dan sedih melihat begitu banyaknya ketimpangan ini. Rasanya sah-sah saja jika orang-orang pedalaman mengatakan belum merasakan kemerdekaan dan keadilan yang sesungguhnya. Sampai kapan mereka yang ada di pedalaman akan hidup dalam keterbatasan ini? Apa yang bisa kulakukan untuk sedikit melepaskan mereka dari belenggu ini? Pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Mungkin, aku tidak bisa melakukan hal spektakuler untuk mereka. Tapi setidaknya dengan misi yang pernah kujalani dan sekelumit kisahku di Kalimantan bisa membuka mata hati umat di Keuskupan Agung Semarang untuk sadar bahwa masih banyak saudara-saudara seiman di Kalimantan yang butuh banyak sapaan baik secara rohani maupun materi.
    Begitu banyak pengalaman berharga yang aku alami ketika bermisi. Pengalaman dan perjumpaan menyadarkanku untuk tidak stagnan dan lebih bersemangat dalam melayani. Aku tergerak untuk lebih aktif dalam kegiatan mengunjungi saudara-saudara di Lembaga Pemasyarakatan. Memberikan peneguhan dan keceriaan dengan kehadiranku dalam doa dan sharing bersama mereka. Aku akan mencoba memahami dan tidak menghakimi saudara-saudara di Lembaga Pemasyarakatan. Setiap orang memiliki kesalahan dan dosa, tapi tiap orang juga berhak untuk mendapat kesempatan berubah menjadi lebih baik. Aku akan belajar untuk memberikan pengampunan kepada orang lain termasuk mengampuni diri sendiri, sebab dengan pengampunan dan penerimaan diri itulah aku semakin mampu untuk menerima orang lain apa adanya. Kucoba mengikuti langkahMu Tuhan sepanjang hidupku dan berharapmulai hari ini dan seterusnya kehadiranku diterima dan menjadi tanda suka cita bagi orang lain.

Agnes Ida Wita Sari adalah seorang Orang Muda Katolik kawakan asal St. Petrus dan Paulus Temanggung. Agnes menjadi orang yang ngemong adik-adiknya di JLM#4 ini. Sehari-hari Agnes berkutat pada pekerjaan memberi les saban sore dan mengelola usaha pisang bersama keluarganya. Moto hidupnya adalah ‘Lakukan yang terbaik’ dan tercermin saat persiapan JLM di mana ia selalu setia menempuh jarak yang tak terukur demi perjumpaan bersama JLM.

Posting Komentar

0 Komentar