KONGREGASI FIC


A. LATAR BELAKANG
Kongregasi FIC lahir di kota Maastrich, Belanda. Untuk memahami keberadaan kongregasi FIC, maka kita perlu mengetahui situasi di negera Belanda pada umumnya dan kota Maastrich pada khususnya. Pada abad ke-19 terjadi revolusi industri seiring ditemukannya mesin uap. Banyak pengusaha mendirikan mulai mendirikan pabrik dengan mesin-mesin bertenaga uap. Mereka berusaha mendapatkan untung yang besar dengan memeras kaum buruh dengan memberi upah yang minimal. Sehingga terjadi kemiskinan dimana-mana. Begitu juga di kota Maastricht. Maka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari orang tua (ayah dan ibu) harus bekerja di pabrik. Dengan demikian anak-anak terpaksa ditinggalkan di rumah atau dibiarkan sepanjang hari bergelandangan di jalan-jalan kota.

Akibat dari kemiskinan, orang tua sudah kelelahan mengurus anak. Mereka tidak lagi mampu mengurus anaknya. Sering terjadi, orarng tua menitipkan anaknya di panti asuhan. Namun keadaan panti asuhan pun tidak jauh beda kondisinya. Panti asuhan juga dalam keadaan yang memprihatinkan karena fasilitas yang kurang memadai dan kurangnya pengasuh. Sebagian besar penduduk kota Maastricht adalah orang miskin, namun ada orang yang hidup berkecukupan. Kemiskinan terjadi akibat sistem sosial dan kemasyarakatan yang menguntungkan pihak tertentu saja.

B. PENDIRI
Kongregasi FIC didirikan di Maastricht, Belanda pada tanggal 21 November 1840 oleh Pastor Ludovicus Rutten dan bersama Bruder Bernardus Hoecken sebagai co-pendiri dan bruder pertama.  Mereka berdua meletakkan dasar bagi kongregasi dan memberikan seluruh hidupnya bagi Allah melalui kongregasi FIC.


Ludovikus Rutten
Lahir di kota Maastricht pada tanggal 8 Desember 1809. Putra kelima dari delapan bersaudara dari keluarga pengusaha anggur dan bir. Pada saat usia 7 tahun ibunya meninggal dunia, sehingga ia diasuh oleh neneknya. Dalam diri Rutten muda, tumbuh panggilan untuk menjadi imam. Ia mempersiapkan diri untuk masuk seminari dan melanjutkan studi filsafat. Pada tanggal 25 Maret 1837, Rutten ditahbiskan menjadi imam. Imam muda ini mengalami suatu panggilan untuk menyerahkan seluruh hidupnya dan semua kekayaannya bagi pelayanan pendidikan dan pembinaan kristiani kaum muda. Ia terutama memberikan perhatian kepada kaum muda yang miskin dan terlantar di kota kelahirannya, Maastricht, yang pada waktu itu kondisi sosialnya amat sangat buruk. Pastor Rutten dikenal sebagai pribadi yang memiliki kemauan yang kuat untuk lebih daripada yang bisa dibuat. Setelah keinginan kuatnya untuk menjadi misionaris terhalang, Rutten tidak berputus asa, tetapi justru tumbuh semangat karya di tengah-tengah kaum muda yang miskin dan lemah. Ia berpegang pada rencana dan berjuang keras untuk dapat mewujudkan rencananya, walau banyak rintangan. 

Pastor Rutten dihargai kesalehannya justru karena kepercayaannya yang penuh terhadap Penyelenggaraan Ilahi. Oleh karena kepercayaan terhadap Penyelenggaraan Ilahi inilah, Rutten menjadi seorang pribadi yang penuh syukur dalam doanya dan dalam hidup kesehariannya. Hal inilah yang sangat mempengaruhi karya dan hidupnya dalam penghormatan dan devosinya yang begitu besar kepada Bunda Maria. Pengalaman bahwa Bunda Maria selalu membimbing dan menyertai membuat Rutten menyerahkan Kongregasi yang didirikannya di bawah perlindungan Santa Perawan Maria yang Terkandung Tak Bernoda. 

Bernardus Hoecken
Lahir di Tilburg, 13 Mei 1810 dengan nama Jacobus Hocken. Anak dari keluarga menengah (tukang kayu & pedagang) dari 6 bersaudara, 2 saudara laki-laki menjadi imam Jesuit; 2 saudara perempuan menjadi suster Karmelit, 1 saudara lagi telah meninggal di usia 15 tahun. Jakobus Hoecken tertarik dengan proyek Pastor Rutten untuk mendirikan kongregasi. Hocken mengawali panggilan hidupnya sebagai religius dengan memulai postulan di biara Karitas di Sint Truiden. Pada tanggal 10 Agustus 1840 menerima jubah (sebagai novis) dan 17 November 1840 kembali ke Maastrict untuk bersama dengan Rutten mendirikan kongregasi. Bruder Bernardus dikenal sebagai pribadi yang berkepribadian tegas (yang kadang menjadi keras) tetapi sekaligus memiliki hati yang lembut dan mudah terkena oleh penderitaan dan kemiskinan yang memerlukan cinta. Beliau adalah seorang religius yang kehidupan rohaninya sungguh mendalam; betapa pentingnya menyelamatkan jiwa-jiwa, penghargaannya terhadap tindak keutamaan dan agamis serta usahanya untuk menciptakan suasana cinta kasih dalam persaudaraan. 

C. KARYA AWAL
Pastor Rutten mengawali karyanya dengan mengajar agama kepada anak-anak. Ia  memulai karyanya di serambi gereja paroki. Karyanya berkembang, ia mengajar dari 3 orang, bertambah menjadi 30, 50, dan setengah tahun kemudian menjadi 200 sampai 300 orang. Ia menanggung biaya semua biaya untuk keperluan karyanya. Lama kelamaan ia membutuhkan tenaga religius untuk membantu karyanya. Ia memulai "proyek" rohani agar karya baiknya diteruskan. Pastor Rutten bersama dengan Bruder Bernardus mendirikan kongregasi FIC pada 21 November 1840. Bruder Bernardus dipercaya sebagai pemimpin kongregasi.

Karya kongregasi FIC tidak berhenti pada mengajar agama di paroki. Rutten dan para bruder mengembangkan karya dengan membuka sekolah formal yaitu sekolah dasar. Para bruder mengalami kesulitan di karya sekolah formal. Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh para bruder. Tantangan muncul dari dalam dan luar. Tantangan dari dalam para bruder tidak memiliki bekal ketrampilan mengajar dan bagaimana harus mengajar dengan baik. Sedangkan dari luar para bruder tidak memiliki ijazah mengajar sebagai persyaratan mengajar di sekolah formal. 

Karya kongregasi berkembang di kota-kota lain di negara Belanda. Kongregasi mulai membuka bruderan di beberapa kota sebagai berikut:
  • St. Michelsgestel dengan menangani anak tunga rungu (21 April 1845), 
  • Amsterdam mengurus anak yatim piatu (1 Mei 1845), 
  • Den Bosch menangani anak-anak tuna rungu (1 November 1845), mengambil alih sekolah dasar milik paroki
  • Amsterdam II mengambil alih panti asuhan (29 Desember 1846)
  • Hasselt - Belgia mengasuh anak yatim piatu (16 April 1847)
Karya kongregasi terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu tidak hanya sebatas yang disebutkan di atas. Namun demikian, tantangan yang dihadapi para bruder semakin kompleks. Mulai dari kurangnya anggota untuk menangani karya yang semakin berkembang, pengaturan pola hidup religius yang belum sepenuhnya teratur, kepemimpinan kongregasi sampai kepada cara hidup sehari-hari. Dengan mengandalkan Penyelenggaraan Ilahi dan perlindungan dari Santa Perawan Maria yang Terkandung Tak Bernoda, para bruder mampu mengatasi kesulitan dan tantangan yang ada. Para bruder juga memutuskan untuk memberikan perhatian secara khusus bagi pendidikan dan pengajaran dan pendidikan bagi kaum muda sebagai karya kongregasi.

D. PERKEMBANGAN KONGREGASI
Seiring berjalannya waktu, kongregasi FIC mengalami perkembangan yang membanggakan. Karya yang diawali oleh Rutten dalam "proyek" yang direncanakan untuk melayani anak-anak di kota Maastricht diberkati oleh Allah sehingga mengalami perkembangan. Semula Rutten hanya membayangkan beberapa orang bruder yang akan membantunya, ternyata pada tahun ke 25 (pesta perak kongregasi) jumlah anggota kongregasi menjadi 109 bruder dan 25 novis. 

Karya yang semula dilakukan di kota Maastricht, terus berkembang di seluruh negeri Belanda bahkan sampai ke Belgia. Karya yang awalnya memberikan pengajaran agama (katekese) bagi anak-anak terlantar berkembang menjadi sekolah formal, perawatan anak yatim piatu, pengambilalihan panti asuhan dan karya sosial lainnya. 

Perkembangan kongregasi tidak berhenti sampai di situ saja. Kongregasi FIC bagaikan biji sesawi yang semula kecil telah tumbuh serta berkembang menjadi pohon besar, tempat burung-burung di udara bersarang di dalamnya. Berawal dari kota Maastricht, berkembang ke seluruh negeri Belanda dan terus berkembang di benua lain yaitu Asia (Indonesia dan Timor Leste), Afrika (Ghana dan Malawi), dan Amerika (Chile).

E. KONGREGASI FIC DI INDONESIA
Kongregasi Bruder FIC sejak awal didirikannya tidak dimaksudkan untuk menjadi kongregasi misi, yang berkarya di luar negeri Belanda. Tetapi dalam laporan tahunan 1912, dengan hati-hati haluan kebijakan diubah sedikit: karya misi akan dibuka jika sekiranya akan ada tanda jelas dari Tuhan bahwa itu pun termasuk karisma dan tugas pengutusan kongregasi. Sudah lama dan sering ada permohonan dari seluruh penjuru dunia untuk mengutus bruder-buder FIC ke pelbagai daerah misi. Permohonan semacam itu selalu ditolak oleh Dewan Umum (pemimpin Para Bruder FIC yang berkedudukan di Maastricht Belanda) dengan alasan kekurangan tenaga dan kekurangan dana untuk membiayai karya misi. 

Menjelang tahun 1920 ketika jumlah anggota kongregasi makin bertambah banyak dan keadaan finansial makin bertambah kuat, dengan adanya subsidi penuh dari pemerintah Belanda untuk semua sekolah FIC. Sejak itu Kongregasi FIC ikut dibawa arus misioner yang kuat yang melanda umat Katolik Belanda, mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah ke luar negara lain yang belum mengenal Kristus. Pada tanggal 28 Desember 1919, ketika dirayakan pesta berdirinya 75 tahun kongregasi, ada pengumuman dari Dewan Umum bahwa pada tahun berikutnya akan dibuka rumah FIC di Yogyakarta di tanah Jawa.  Dengan tujuan mendirikan sekolah-sekolah untuk mendukung karya misi Katolik di kota itu. Dengan adanya sekolah Katolik, umat yang baru bertobat (menjadi Katolik) pasti akan diteguhkan dalam pilihan agama mereka. Tujuan itu mirip sekali dengan tujuan yang dicita-citakan oleh Para Pendiri Kongregasi pada tahun 1840, yakni Pastor Rutten dan Bruder Bernardus Hoecken. Keduanya bercita-cita mendirikan sekolah Katolik sebagai sarana jitu untuk mendalami dan memelihara agama Katolik.

Dari 113 bruder yang mendaftarkan diri ke Dewan Umum untuk menjadi misionaris di Jawa, akhirnya pada pesta Paskah 1920 dimeriahkan dengan diumumkannya 5 bruder yang diutus menjadi misionaris, yakni Br. August, Br. Lebuinus, Br. Eufrasius, Br. Constantius, dan Br. Ivo. Pada hari Minggu, 8 Agustus 1920, sesudah misa agung di biara Induk De Beyart di Maastricht, Br. August dilantik sebagai pemimpin Komunitas FIC St. Fransiskus Xaverius di Yogyakarta. Kemudian 14 Agustus para misionaris pertama naik kapal Wilis dari Rotterdam, menuju apa yang pada masa itu bernama Batavia (sekarang Jakarta). Tanggal 19 September mereka sampai di Tanjung Priok dan dijemput oleh Pastor van Lith. Kelima bruder menginap semalam di Gereja Katedral dan keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta dengan kereta api. 20 September sore, para bruder tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta dan dijemput pastor Hoeberechts, seperior misi. Sesudah disambut di pastoran Kemementstraat (pastoran Kidul Loji sekarang), para bruder diantar ke rumah yang sekarang dikenal dengan Bruderan FIC Fransiskus Xaverius, Jl. P. Senopati 18 Yogyakarta. Sejak itu, tanggal 20 September dikenang sebagai tanggal hadirnya Para Bruder FIC di Provinsi FIC Indonesia. 

Para bruder misonaris, selain berkarya di sekolah, juga berusaha menarik panggilan ke Kongregasi FIC. Buahnya, tahun 1924, sesudah empat tahun kedatangan di Jawa, Br. Aloysius Sugiardjo dan Br. Jacobus Hendrowarsito mengikrarkan kaul pertama di Maastricht. Dengan kata lain, dua tahun sesudah kedatangan lima bruder di Yogyakarta, ada dua calon bruder FIC pribumi dan keduanya menerima pendidikan sebagai bruder FIC di Belanda. Calon-calon berikutnya mengalami pendidikan sebagai calon bruder FIC di Belanda. Semenjak 1 Agustus 1936 dimulailah pendidikan calon bruder di Jawa dan sampai hari ini pendidikan tersebut berjalan terus. Dengan berkembangnya jumlah bruder FIC pribumi, maka berkembang pula jumlah komunitas dan karya yang ditangani. Para bruder tetap berusaha melanjutkan dan membangun pondasi kongregasi yang telah dibangun Pastor Rutten dan Br. Bernardus beserta para misionaris yang datang ke Indonesia.

Karya kerasulan para bruder FIC di Indonesia yaitu:
  1. Pendidikan formal (sekolah-sekolah Yayasan Pangudi Luhur)
  2. Sosial (Yayasan Budi Mulia Semarang)
  3. Pendampingan kaum muda (Rumah Retret Syalom, asrama)
  4. Pendampingan religius (Rumah Khalwat Roncalli)
  5. Panti Asuhan
  6. Pertenunan
  7. Percetakan 
  8. Pelayanan Sosial Tenaga Kerja 


Kegiatan temu Bruder Muda dan Frater FIC di Muntilan


Kapitel Umum di Belanda



Ibadat Penerimaan Postulan baru di Postulat



Pembaruan prasetia para bruder muda di Kapel St. Petrus Canisius Muntilan



Br. Ontoseno menjadi juri lomba Kitab Suci



Para Bruder Muda persiapan ziarah ke Gua Maria Gantang

Posting Komentar

0 Komentar