KONGREGASI BRUDER-BRUDER ST. ALOYSIUS (CSA) SEMARANG


SEJARAH SINGKAT KONGREGASI BRUDER-BRUDER ST. ALOYSIUS (CSA) SEMARANG

Di sebuah dusun pertanian di bagian selatan dari negeri Belanda, tepatnya di dusun Oudenbosch, pada 1 Maret 1840 didirikan sebuah Kongregasi Bruder-bruder Santo Aloysius (CSA). Kongregasi ini didirikan oleh Pastor Willem Hellemons, O Cist untuk menjawab kebutuhan pastoral di paroki Oudenbosch, yang masuk dalam wilayah Keuskupan Breda, Belanda selatan. Pastor Willem Hellemons,O Cist, pastor kapelan setempat mengajak seorang pemuda bernama Yohanes Huybrechts, yang akhirnya menjadi bruder pertama dengan nama biara “Vader Vincensius” untuk merintis sebuah karya pendampingan kaum muda yang mengalami krisis iman dan moral akibatperang antara Belanda dan Belgia. Ketika sedang dilangsungkan gencatan senjata antar kedua pihak, banyak tentara yang menganggur dan berulah, membawa pengaruh jelek pada masyarakat setempat khsususnya anak-anak dan kaum mudanya. Banyak pemuda yang apatis terhadap kegiatan Gereja, tidak lagi menghormati sakramen-sakramen Gerejani dan jarang ikut misa pada hari Minggu serta bertindak kriminal, meresahkan banyak orang. Bahkan walikota Oudenbosch dan pastor kepala sendiri merasa putus asa dengan situasi ini. Namun Pastor Weillem Helemons tetap berjuang untuk memperbaiki situasi dengan caranya sendiri. Maka dirintislah sebuah kongregasi bruder yang bisa menjadi partner pastoral. Itulah cikal bakal lahirnya Kongregasi Bruder St. Aloysius (CSA) yang dikemudian hari juga menjejakkanlangkah kakinya di tanah misi Hindia Belanda (Indonesia).

Awal Karya di tanah Misi Hindia Belanda

Awalnya adalah Pater M. Van den Elzen, SJ, penanggung jawab misi Jesuit di Jawa meminta tenaga dari Kongregasi Para Bruder St. Aloysius (CSA) di Oudenbosch- Belanda untuk membuka karya pendidikan di Surabaya tahun 1862. Inisiatif ini tentu telah disetujui olerh Mgr. Vrancken, Vikaris Apostolik Batavia. Pater van den Elzen, yang mantan rektor skolastikat SJ di Belanda mempunyai strategi kerasulan tersendiri dalam tugasnya yang baru di Stasi Surabaya. Pilihan bidang pendidikan kiranya sangat tepat mengingat Surabaya waktu itu sudah merupakan salah satu pusat industri di pulau Jawa.

“Tidak mungkin Gereja bisa berkembang tanpa Sekolah Katolik” demikian beliau meyakinkan para bruder setelah mereka tiba di Surabaya 28 Mei 1862. Maka, ke empat bruder CSA yakni Br. Engelbertus, Br. Stanislaus, Br. Felix dan Br Antonius segera memulai karya persekolahan dengan membuka ELS (Europes Lagere School) atau Sekolah Dasar khusus putra. Untuk Sekolah Dasar khusus Putri baru ditangani oleh Para Suster Ursulin mulai tahun 1863.

Pada tahun 1862 jumlah umat Katolik di Surabaya 1767 jiwa, terdiri dari umat asli Belanda dan Indo (ayah Belanda-ibu pribumi), belum ada satupun umat pribumi yang memeluk agama Katolik di Kota itu. Situasilah yang kemudian menuntut para bruder CSA untuk berkarya hanya di tengah kaumnya sendiri, orang-orang Eropa/indo. Pelan namun pasti sekolah bruderan makin di kenal dan diminati banyak orang baik dari golongan atas, menengah maupun bawah. Model subsidi silang ternyata telah diterapkan sejak awal oleh para bruder. Ada 2 jenis sekolah, sekolah I untuk anak-anak orang kaya yang notabene semua murid anak-anak asli Belanda dan beragama Protestan, sedangkan sekolah II untuk anak-anak dari orang-orang miskin yang sebagian besar diisi oleh anak-anak Indo yang beragama Katolik.

Pater Van den Elzen justru menaruh perhatian pada sekolah II ini karena anak-anak Indo inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal pertumbuhan Gereja di Surabaya sebab merekalah yang akan menetap di Surabaya, tidak seperti anak-anak asli Belanda yang akan mengikuti orang tuanya pindah tugas ke kota lain atau bahkan kembali ke negeri leluhur, Belanda.

Setelah 40 tahun berkarya di Surabaya, para bruder CSA mengembangkan karya pendidikannya dari tingkat SD, SMP dan SMA di kota-kota lain di Hindia Belanda seperti di Jakarta (1905), Semarang (1907), Bandung (1930), Madiun (1934). Berkat kerja keras dan dukungan dari para pemimpin Gereja saat itu, karya persekolahan para bruder CSA cukup dikenal dan diminati banyak orang tua murid, di kalangan perkotaan. Di antara sekolah-sekolah itu cukup familiar bagi sebagian umat katolik di perkotaan, misalnya SMA Sint Louis Surabaya, SD-SMP-SMA Aloysius Bandung atau yang dikenal dengan nama SMA TOP (TARUNA OGHA PRAVRITTI), SD-SMP-SMA Sint Louis Semarang.

Kemerdekaan RI Mengubah Segalanya

Selama pendudukan Jepang seperti yang dialami oleh sebagian misionaris Belanda, ada beberapa bruder CSA yang juga dimasukkan kamp-kamp tahanan Jepang baik di Surabaya maupun di Bandung. Itulah awal masa-masa sulit bagi perjalanan kongregasi. Banyak sekolah bruderan, asrama maupun panti asuhan yang dijadikan markas tentara Jepang, akibatnya sebagian anak-anak dipulangkan atau diungsikan ke tempat yang aman.

Pasca Kemerdekaan RI meskipun sekolah, asrama, panti asuhan diserahkan kembali ke bruderan namun kesulitan toh tetap ada hanya bentuknya yang berbeda. Beberapa bruder karena berstatus WNA tidak diijinkan mengajar di Indonesia, sebagian besar kembali ke negeri Belanda dan sebagian kecil lagi mengikuti proses indonesianisasi, menjadi WNI.

Pada waktu-waktu selanjutnya, para bruder dari Belanda, sebagaimana dialami oleh para misionaris lain, juga sulit masuk ke Indonesia karena peraturan pemerintah RI yang membatasi tenaga misionaris. Namun panggilan di negeri Beladna pada era itu juga sudah menurun. Sementara para bruder asli Indonesia masih sangat sedikit. Akibatnya karya-karya yang besarpun terutama di bidang pendidikan mulai kehilangan tenaga-tenaga handanya.

Menerima Calon Pribumi

Setelah berkarya di Indonesia selama 95 tahun, CSA baru membuka novisiat, namun menerima calon-calon bruder pribumi baru pada tahun 1959. Mengapa bisa begitu terlambat? Salah satu penyebabnya adalah bahwa sejak awal kehadirannya para bruder hanya berkarya di tengah anak-anak Belanda dan Indo, interaksi dengan pemuda-pemuda pribumi juga sangat jarang, akibatnya juga tidak ada pemuda pribumi yang tertarik untuk menjadi bruder. Lagi pula kongregasi juga masih menaruh harapan pada panggilan bruder di Belanda, meskipun faktanya panggilan di sana pun sudah sangat berkurang. Maka karena situasi dan kebutuhan akhirnya menerima jug a calon bruder pribumi.

Dampak dari terlambatnya menerima calon bruder pribumi adalah terjadinya generasi yang ‘hilang’ sehingga menyebabkan terhambatnya estafet karya pendidikan. Sekolah-sekolah bruderan di Surabaya, Bandung, Semarang kemudian diserahkan ke Keuskupan setempat atau dijual ke tarekat lain dengan harga ‘persaudaraan’, yang penting biara, sekolah maupun panti asuhan tersebut masih digunakan untuk keperluan misi Gereja Katolik di Indonesia. Namun ada satu kompleks Sekolah di Jakarta yang terpaksa di jual ke pemerintah (Pertamina) karena adanya intervensi dari pemerintah untuk dapat memiliki tanah dan bangungan tersebut.

Antara tahun 1970-1980 banyak rumah biara dan karya persekolahan yang beralih tangan ke tarekat/yayasan lain. Di Surabaya, Jakarta, Bandung biara dan sekolah-sekolah Sint Louis diserahkan ke keuskupan dan rumah biara di jual ke tarekat lain. Kekurangan tenaga bruder menjadi penyebab utamanya. Lagi pula bruder pribumi masih sangat sedikit dan tidak akan sanggup menangani karya-karya sekolah yang besar tersebut.

Dalam perjalanan waktu calon-calon pribumi meskipun tidak banyak namun tetap ada sehingga lambat laun bisa menggantikan posisi tugas dan tanggung jawab bruder-bruder dari Belanda yang karena usia kemudian ada yang kembali ke negeri Belanda atau ada juga yang meninggal di Indonesia. Kemudian para bruder pribumi hanya menangani karya di tiga kota di Jawa: Madiun, Semarang dan Yogyakarta dan satu di Flores (Ruteng).

Berkat rahmat dan kasih Tuhan, CSA yang hampir mati ini bisa hidup kembali, tunas itu tidak dibiarkan mati oleh Sang Pemberi Kehidupan. Buktinya beberapa tahun kemudian bruder-bruder pribumi makin bertambah, hingga tahun 2012 berjumlah 54 bruder dan 5 novis.

Menjadi Kongregasi Mandiri

Dengan mengalami jatuh bangun kongregasi ini kemudian menapaki hidup baru dengan memisahkan diri dari Biara induk di Oudenbosch-Belanda. Setelah melalui discernment yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya CSA Indonesia menyatakan mandiri dengan Dekrit dari Tahta Suci tertanggal 25 November 1999. Sejak saat itu CSA Indonesia berstatus keuskupan tidak lagi kepausan dan berada di bawah reksa Keuskupan Agung Semarang.

Dengan berstatus kongregasi mandiri tentu membawa konsekuensi tersendiri. Salah satunya adalah soal kemandirian finansial. Mampukah anak dari kongregasi ini menanggungseluruh biaya hidup dan karya setelah memisahkan diri dari biara induk? Bak anak ayam yang mulai melepaskan diri dari rasa aman dan mapan karena dekat dari sang induk, maka kini tibalah saaatnya bagi anak ayam itu mulai mengais mencari makanannya sendiri untuk tetap bisa survive. Gusti mboten sare, maka IA akan selalu menuntun dan menjaga hidup umat yang dipilih-Nya. Dalam peziarahan hidup kongregasi selalu ada rahmat tersembunyi dari-NYA. Rahmat tersembunyi itulah yang selalu memberi pengharapan dan peneguhan untuk tetap setia. Bersama semangat dan teladan hidup Santo Aloysius Gonzaga, pelindung kongregasi, kiranya para bruder juga dimampukan untuk memurnikan hati dalam mengabdi Tuhan, karena DIA yang memulai, DIA pula yang akan turut menyelesaikan seluruh mimpi kongregasi Bruder St. Aloysius dari Semarang ini.

Website : http://www.brudercsa.org/

Posting Komentar

0 Komentar