JLM#3 - SEMANGAT SEORANG UTUSAN, GAIRAH SEORANG PEWARTA, SUKACITA SEORANG MISIONARIS Oleh : Ofny Oktafian S. Maapi (Tim KKI KAME)


SEMANGAT SEORANG UTUSAN, GAIRAH SEORANG PEWARTA, SUKACITA SEORANG MISIONARIS
Oleh : Ofny Oktafian S. Maapi

Sesungguhnya mereka yang paling beruntung adalah mereka yang mengesampingkan rasa aman dan menjadi bersemangat dengan perutusan mengkomunikasikan hidup pada sesama[1].  Semangat seorang utusan, gairah seorang pewarta, sukacita seorang misonaris adalah faktor yang sangat menentukan dalam bermisi. Inilah sikap dasar seorang misionaris. Dengan demikian, seorang pewarta Injil harus ada sukacita yang menggembirakan dan menghibur untuk mewartakan kabar baik, bahkan bila harus dengan deraian air mata, kita harus menabur kabar baik itu.  Mampukah kita, para misionaris zaman ini, menampakkan senyum dan wajah berseri di balik derai air mata karena aneka tantangan bermisi di Tanah Papua (Paroki Getentiri) ?     


Pertemuan dan pengalaman unik yang dialami selama pelayanan paskah
Berada di wilayah paroki Getentiri sebenarnya bukanlah pengalaman pertama, bahkan sudah kali yang ketiga. Tapi untuk bertemu langung dan mengalami secara lebih dekat kehidupan Suku Awyu yang mendiami pinggiran Sungai / Kali Kia adalah pengalaman pertama. Pengalaman unik yang pertama saya alami ketika harus berangkat bersama di Stasi Ujung Kia, kemudian akan menyebar ke stasi masing-masing. Diawal pembicaraan telah disampaikan bahwa tempat tugas saya adalah yang paling jauh yaitu di Kampung Watemu yang terletak di kepala kali. Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Semua tim yang akan bertugas di stasi-stasi wilayah kali Kia dan dijemput oleh dewan stasi masing-masing. Beberapa jenis transportasi air / sungai pun merapat untuk mengangkut barang dan penumpang. Terlihat beberapa Viber / Long in boot (20-40 PK) yang bertuliskan nama kampung merapat. Mulai dari Yang, Hobinangge dan Kapughu dan terakhir adalah Watemu. Ternyata yang paling jauh ini jenis transportasinya adalah ketinting (5-10 PK). Dalam hati kecil sedikit terkejut disertai tawa yang mungkin sedikit keheranan (kog malah yang paling jauh, naiknya yang kecil ini dengan kecepatan yang kecil pula). Sebenarnya tidak ada persoalan atau ketakutan tertentu dengan transportasi itu, karena ini bukan pengalaman pertama menggunakan trasnportasi itu. Hanya agak sedikit lucu saja…. Itulah pengalaman unik yang pertama.

Perasaan yang dialami saat itu
Pertama tama ketika saya bisa berjumpa dengan sesama umat beriman di tempat yang jauh ada perasaan senang dan gembira. Terlepas dari stituasi alam, kahidupan umat baik dalam bermasyarakat maupun menggerja, perasaan gembira selalu menyertai di setiap moment perjumpaan. Ketika harus membandingkan situasi hidup dalam berbagi aspek, tentunya jauh berbeda dengan masyarakat perkotaan. Maka perasaan senang dan gembira pasti menjadi modal utama dalam setiap perjumpaan. Namun memang dibalik rasa gembira itu tentunya ada saat dimana kita merasakan hal yang sebaliknya ketika kita berhadapan dengan kehidunpan nyata umat. Tapi apupun perasaan lain yang muncul tidak bisa menutupi rasa gembira. Toh pada akhirnya kita harus bergembira karena kita perna berjumpa dan mengalami berbagai macam rasa dan itulah yang menjadi kenangan indah.

Keterlibatan apa yang sudah dibuat
Moment ini begitu indah, jadi akan sangat baik jika dimanfaatkan sebaik mungkin. Tugas dan tujuan utama ketika diutus ke Watemu adalah membantu, memperlancar dan mempersipakan umat dalam perayaan Pekan Suci. Maka ada banyak hal yang boleh kami buat dan tentunya dalam kebersamaan dengan dewan dan umat.

  • Mempersiapkan petugas liturgi
  • Mempersiapkan bahan dan perlengkapan liturgi
  • Memimpin perayaan sabda
  • Katekese Anak ( Pembinaan Anak Sekami)
  • Pastoral Keluarga / Kunjungan Keluarga (Sharing ttg kehidupan, baik rumah tangga, dapur, ekonomi, kesehatan tapi juga lingkungan hidup berkaitan dengan investasi perusahan)

Nilai nilai yang diperoleh
Yang pertama saya temukan dalam diri umat di watemu adalah nilai keterbukaan. Dimana mereka membuka diri terhadap kedatangan para petugas gereja. Mereka menyambut siapa saja yang datang dengan berkehendak baik. Nilai lain yang juga saya temukan adalah kebersamaan / gotong royong. Hal ini terbukti dimana umat secara bersama-sama mempersiapakan semua hal untuk perayaan Pekan Suci. Namun dibalik itu menjadi sebuah keprihatinan karena nilai-nilai itu terkadang mesti harus diingatkan terlebih dahulu. Umat belum mampu secara mandiri mengambil inisiatif. Dengan kata lain kebanyakan dari mereka lebih bersikap reaktif ketimbang proaktif. Disinilah dibutuhkan sikap kepasrahan sekaligus keiklasan setiap petugas pastoral untuk terjun berjuang mengingatkan umat tentang nilai nilai luhur tersebut, sehingga dikemudian hari kita tidak hanya mendengar cerita bahwa “,,,,, adoh kami punya orang-orang tua dulu boleh, mereka dekat dengan Tuhan dan mereka dengar Tuhan….. tidak seperti kita sekarang….”


Makna rohani yang diperoleh
Semua orang kristiani dipanggil untuk menjadi saksi sekaligus pewarta kabar sukacita Injil. Dengan demikian setiap orang kristiani wajib mengambil bagian dalam tugas dan karya pastoral gereja. Saya sudah mencoba dan berusaha melaksanakan itu. Basic saya adalah bekerja dibidang kuliner. Tapi saya mengesampingkan itu kemudian kuliah teologi dan kataketik guna mempersiapkan diri untuk mengambil bagian dalam tugas pewartaan. Tapi toh walaupun sudah mempersiapkan diri selama bertahun tahun, saya masih merasa kurang. Ada begitu banyak kekurangan serta kelemahan saya, seperti tidak bisa bernyanyi dengan baik karena suara datar, kalaupun terpaksa menyanyi harus dengan system menghafal,  kalau harus animasi tari dan lagu badan terasa kaku.  Kekurangan dan kelemhan ini terkadang sangat mengganggu ketika sisi lemah ini muncul dalam pelayanan. Seakan ingin berhenti atau mungkin beralih profesi saja. Namun dalam setiap moment perjumpaan saya mengalami bagaimana kehidupan nyata umat yang mana saya harus melakukan sesuatu bahkan yang harus diakukan itu adalah hal yang paling saya hindari. Dan pada akhirnya dengan kuasa Tuhan yang tak terbatas itu, saya bisa melakkukan sesuatu dengan keterbatasan saya. Lewat peristiwa ini saya berani mengatakan bahwa: janganlah kita malu dan takut  untuk melayani Tuhan dalam diri sesama karena kekurangan dan keterbatasan kita, karena justru dengan melayani Tuhan, kelemahan, kekurangan dan keterbatasan kita akan dilengkapi secara penuh.
________________________
[1] Bdk Evangelii Gaudium Art 10

Posting Komentar

0 Komentar