JLM#1- JEJAK, PERBUATAN, DAN HARAPAN


8. JEJAK, PERBUATAN, DAN HARAPAN

Perjalanan ini dimulai berawal dari perbincangan kecil. Namun perjalanan ini menjadi perjalanan dengan pengalaman besar dalam hidupku, (JLM) Jejak Langkah Misioner #1 2015 adalah sebuah perkumpulan orang muda Katolik se Keuskupan Agung Semarang yang dengan berani dan rela serta siap meninggalkan aktivitas keseharian pribadi untuk terjun secara langsung bertemu dan berproses bersama dalam segala bidang dengan saudara-saudara se iman ke pedalaman di Paroki Balai Berkuak, Pra Paroki Kualan Sekayok, Botong, Keuskupan Ketapang, Kalimantan Barat.

Hampir enam  bulan proses yang aku alami dari pra persiapan hingga perjalanan ini dimulai, banyak perjumpaan hal-hal baru dengan teman satu team, banyak pembelajaran bagaimana bisa menyatukan ide, gagasan dalam perbedaan untuk kebersamaan yang harus dilakukan sampai misi ini selesai dan persahabatan ini menjadi kenangan dan terus berlanjut sampai kapanpun. Meskipun Misi ini sudah terancang dan tertulis dalam agendaku yang berarti aku harus konsisten dengan segala agenda yang aku lalui dan berusaha mengatur jadwal namun terkadang masih ada kendala yang berbenturan langsung dengan kehidupanku sehari-hari, kekawatiranku akan hal-hal kecil yang harus setiap kali dan rutin meninggalkan pekerjaan harian dan pada waktu mendekati keberangkatan pertemuan dan agenda lain lain yang semakin padat saja, namun karena saya yakin bahwa Misi ini sungguh baik maka semuanya berjalan dengan banyak kelimpahan.

Ada beberapa hal yang meneguhkan berawal dari pemberian Salib perutusan oleh Rm FX.Sukendar (Administrator Diosesan KAS) di Gereja St Antonius Muntilan bersamaaan dengan perayaan Ekaristi Promulgasi Rencana Induk KAS dan Pembukaan Tahun Kerahiman. Disamping itu juga banyak hal kecil namun menarik dalam setiap penggalangan dana untuk kebutuhan tim yang sempat aku ikuti beberapa kali, banyak sekali proses yang menjadi bekal untuk perjalanan ini.

Hari begitu cerah meskipun aku sakit demam dan flu berat, pagi-pagi sekali hari Selasa tanggal 22 Desember 2015 kami berangkat dari Yogyakarta menuju Pontianak kemudian setelah sampai di Pontianak  melanjutkan perjalanan lagi menuju Paroki Balai berkuak dengan waktu tempuh perjalanan darat yang hampir 6 Jam, sudah petang memang kami sampai di Balai namun sambutan hangat dari Romo paroki Rm Ari, Rm Karel, Rm Endy dan juga OMK Balai yang sedang berlatih koor untuk persiapan Natal kembali menjadi penyemangat, dan setelah beristirahat sejenak, malam itu juga kami semua berdiskusi bersama karena keesokan paginya kami harus berangkat ke Pra Paroki Kualan Sekayok Botong.


Dering alarm jam tangan mengusik telingaku yang tak terasa sinar matahari sudah memancarkan cahayanya melewati lubang jendela, tampak Gereja St Martinus megah disamping pastoran di  balai berkuak. Hari ini perjalanan yang sebenarnya dimulai dengan menaiki perahu kecil berkapasitas 18 orang kami berangkat ke Botong dengan melawan arus Sungai Kualan, air yang kotor dan berwarna coklat sudah menjadi pemandangan biasa di sungai Kualan yang di Balai ini, tak hentinya mataku merekam apa yang aku lihat saat perjalanan dengan perahu, sepanjang perjalanan pemandangan yang indah dengan banyak sekali tumbuhan dan pepohonan yang masih tegak dan rimbun, hingga sampai titik temu kenapa air sungai Kualan berwarna coklat adalah sisa sisa penambangan emas dari mereka yang menyedot air sungai kemudian menyemprotkan pada tanah untuk mengurai emas dan limbahnya kembali lagi ke sungai, waktu berlalu dan sudah hampir 5 jam perjalanan barulah aku menemukan kejernihan air sungai kualan dan katanya ketika air sudah jernih berarti kita sudah dekat dengan tempat tujuan, pemandangan alam yang lebih luar biasa lagi pohon besar masih sering terlihat, rimbun dan hijau dengan semak semak yang alami dan air sungai yang tembus sampai ke dasar, berbeda  ketika ada di hilir sungai.

Di ujung dermaga kecil sungai tampak diatasnya ada jembatan gantung dari kayu belian, banyak sekali anak-anak yang berderet menyambut kami, tampak wajah keriangan dan kepolosan mereka. Hari sudah sore namun tak disangka perjalanan kami sudah dinantikan dan disiapkan sambutan upacara adat dari warga masyarakat di depan Gereja Santa Maria Botong, inilah Gereja  Pra Paroki dan upacara adat disinilah aku boleh merasakan minuman khas Kalimantan “Tuak” untuk kesekian kalinya setelah hampir 3 tahun. Sambutan yang luar biasa dan hangatnya warga masyarakat kepada kami meskipun baru saja berjumpa semakin meyakinkanku akan keramahan dan kebaikan berjumpa dengan keluarga Allah di manapun tempatnya.

Di Botong aku tinggal dengan keluarga Bapak Gary, dirumah panggung yang kokoh inilah Kek Gary panggilannya, tinggal dengan isterinya dan anaknya Bram yang masih bersekolah kelas 6 SD yang sangat pintar sekali berenang dan menyelam menangkap ikan di dalam air. Agenda kami di botong sangat padat sekali sehingga tidak sempat berdinamika bersama keluarga yang saya tinggali. Hari pertama di Botong sambil saling berakrab dengan masyarakat, OMK, maupun anak2 sangat menggembirakan terutama dalam jamuan makan bersama yang disediakan oleh warga tiap kring, saling sapa dan bercerita saling bertanya nama adalah awal komunikasi, malam natal ini kami membantu dekorasi di Gereja bersama warga anak-anak dan OMK, dan kami misa malam Natal tahun ini di Kalimantan.


Turne adalah perjalanan ke Stasi-stasi yang ada di pra paroki Botong untuk melakukan Perayaan Ekaristi Natal, bersama Romo Nugroho Tri Pr yang skaligus sebagai Komandan JLM #1, 2 Frater dari Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta dan 7 teman OMK Semarang yang kesemuanya kita bersebelas bersama OMK Botong. Dalam setiap turne kami semua selalu ditemani anak-anak dan OMK Botong dengan menaiki sepeda motor, perahu, bahkan harus berjalan kaki menembus jalan setapak yang berlumpur dan hutan belantara berbukit yang masih asli, 3 hari Turne di daerah yang dekat dengan Botong  sehingga bisa pulang ke rumah meskipun lebih dari jam 10 malam, dan 3 hari turne ke Hilir dengan perahu yang harus menginap di stasi lain dan menginap di gereja stasi lain, banyak sekali pengalaman pengalaman menyenangkan sekaligus membuat aku termotivasi untuk tidak mudah menyerah dan lelah setelah melihat semangat yang luar biasa dari teman-teman OMK Botong yang dengan keadaan geografis berbukit, hutan lebat, jalan yang susah dilalui, namun kegembiraan dan tidak putus asa selalu terpancar di wajah mereka.

Semangat yang luar biasa! Suatu pengalaman yang aku jumpai ketika teman-teman OMK Paoh salah satu stasi di pra paroki Kualan Sekayok, demi untuk bisa berkumpul di Botong untuk mengikuti Outbound Sekolah Alam yang kami agendakan di Botong, mereka berjalan kaki dari pagi sampai sore menembus hutan dan menyusuri sungai dan mereka harus menginap, hanya ingin berjumpa dengan kawan,sahabat dan kerabat, sungguh suasana dinamika yang berbanding terbalik dengan keadaan beberapa OMK yang ada di Jawa yang dengan fasilitas jalan yang  sangat mudah di lalui, kendaraan yang banyak namun semangat yang mungkin hanya sekedar perjumpaan dengan teman, kawan, saudara sahabat seiman  masih saja kurang bersemangat atau bahkan lebih baik tidak hadir. Semangat inilah yang seharusnya kita contoh, kita lakukan untuk generasi muda gereja.

Banyak hal yang terekam di mata, terekam di rasa, terekam di hati, terlalu banyak kenangan dan peneguhan dalam setiap perjuampaan dengan saudaraku di Kalimantan, begitu banyak rasa itu... disini aku banyak belajar tentang persahabatan yang tak bertepi, keterbukaan, kebersamaan, kesederhanaan,  persaudaraan dan saling tolong menolong yang lebih. Tak terasa hari telah habis namun cerita dan perjalanan tak kan pernah habis, dimanapun jejak kita melangkah, langkah kita yang pasti namun berhati-hati akan membawa banyak pesan dan kesan yang mendalam untuk diri sendiri , untuk sesama manusia, dan untuk semesta demi sebuah pengabdian kepada Tuhan Allah.

3 Januari 2015, Pastoran Gereja Santo Martinus Balai Berkuak, Kalimantan Barat

Yulius Heru Adi Suseno

Yulius Heru Adi Suseno biasa dipanggil Seno. Seno berasal dari paroki St Maria Lourdes Sumber. Sehari-harinya selain berwiraswasta dan aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan, Seno adalah seorang guru di SDN Ngadipuro, desa Ngadipuro, Kecamatan Dukun, kabupaten Magelang. Kegemarannya mendaki gunung membuatnya juga tergabung dalam kelompok relawan Tagana (Taruna Siaga Bencana). Motto hidup Seno adalah “Setiap kemenangan membutuhkan persiapan.”

Posting Komentar

2 Komentar